It’s Our Thousand Miles Journey
Malam menjelang ulang tahun perkawinan, kami berkomitmen untuk masing-masing menuliskan tentang perkawinan ini di blog. Ceritanya tentang apa saja seputar kehidupan perkawinan yang telah kami lalui dan kami deklarasikan beberapa tahun lalu sebagai our thousand miles journey. Berikut yang pertama adalah versi saya seputar perayaan ini.
20 Desember 2004
Muka saya sumringah tanpa henti didepan komputer kantor saya saat itu. Koneksi internet yang menampilkan kotak surat digital friendster dihadapan saya tidak berhenti saya pandangi, susunan kata dan kalimat di dalamnya terasa begitu menyejukan. Seseorang yang mengirimkan surat diseberang sana, mengiyakan ajakan ketemuan di salah satu kafe di bilangan melawai. Senang dan berharap waktu cepat berputar untuk waktu pulang. Pekerjaan sudah tidak lagi jadi pikiran.
Jam pulang tiba juga walau terasa begitu lama. Bergegas saya menuju halaman parkir di lantai bawah tanah gedung itu. Motor yamaha biru yang saya cicil semenjak bekerja dikantor ini langsung saya gas kencang, meninggalkan banyak lawan dibelakang. Saya memang sudah menantikan saat pertemuan ini sejak beberapa hari lalu. Teman korespondensi yang menyenangkan di media digital yang populer pada masa itu. Seorang kawan yang saya belum pernah bertatap muka secara langsung, walau pernah satu sekolah dasar bersama.
Tiga puluh menit perjalanan sama sekali tidak terasa. Saya tiba di lokasi yang dijanjikan. Namun, kenapa dada saya bergemuruh kencang sekali, hal yang tidak biasa. Adrenalin yang terpompa jauh melebihi kencangnya putaran roda motor saya selama ini. Terpacu dalam batas yang paling tinggi, kaki saya lemas namun saya paksakan berdiri dan berusaha melangkah pasti. Jantung saya berdebar semakin menjadi saat saya melihat teman saya sudah tiba dan duduk menanti. Belum terlalu lama menanti, gelas yang berisi frapuchinonya pun belum banyak dinikmati.
Saya berdiri dihadapannya, terpana dan berusaha menjadi yang pertama mengajukan jabat tangan. Saya julurkan tangan kanan saya yang berselimutkan seragam putih kantor dan berbalut jaket hitam. Kami berjabat tangan bagai sepasang sahabat yang telah lama mengenal, dan memperkenalkan diri.
Saya: “tyas”
Teman saya: “novel”
Saya duduk dihadapannya, beberapa detik terdiam untuk merancang kata. Puluhan surat yang sudah saling kami kirim dan terima sepertinya tidak mampu membuat menjadi bahan pembicaraan. Pertanyaan yang sudah dirancang pun seperti tersekat di kedalaman tenggorokan. Teman saya yang justru memulai memecah kesunyian dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Memimpin obrolan dari saya yang masih tersisa sedikit gemuruh didada.
Satu jam pertemuan pertama terasa berlalu begitu cepatnya. Ingin menahannya lebih lama karna pembicaraan yang semakin menyenangkan namun apa daya, bahwa teman saya ini harus pulang dan menjemput orang tuanya. Seruputan terakhir vanila frapuchino saya nikmati dalam-dalam, seperti pembicaraan pertama kami malam ini. Kenyamanan dan kehangatan duduk bersama, dalam tawa diselingi gurauan ringan tentang banyak hal menindaklanjuti percakapan dalam surat-surat kami. Kenikmatan yang ingin saya nikmati lagi.
22 Januari 2006
Hari pertama saya dengan resmi dapat menikmati bidadari itu sesuka hati.
Dan sekarang, 22 Januari 2010
Hari ini adalah lebih dari lima tahun sejak pertemuan saya dengan gadis mungil itu. Lebih tepatnya ulang tahun perkawinan saya yang keempat bersama bidadari penggemar hoki ini. Banyak hal yang sudah kami lalui, suka senang, sedih gembira, haru biru, ketawa-ketiwi, jambak sana gigi sini, tendang sana cium sini dan banyak hal tak terhingga yang memberi makna kehidupan. Empat tahun perjalanan bergelombang yang semakin mendewasakan.
Ulang tahun perkawinan ini saya tidak lagi menikmati hidup berdua. Ada karunia yang saya terima untuk selalu bangun pagi dan menikmati suguhan dua pipi mungil dari mahluk hidup yang paling saya cintai. Christian Keanu Caherswara mewarnai kehidupan saya berdua sejak dua setengah tahun lalu. Satu lagi anak tangga yang semakin tinggi dari dataran sebelumnya, satu kenikmatan tiada tara. Tawa lepas yang selalu saya rindukan, atau kenakalan yang selalu mengingatkan untuk selalu hadir mendampingi dan keluguannya untuk mendoktrinasi dengan segala nilai positif hidup ini.
Pertemuan pertama di kafe berlogo hijau itu jika dikenang menjadi titik awal dari rangkaian yang kami deklarasikan sebagai thousand miles journey saya dengannya, entah sampai kapan. Langkah demi langkah perjalanan hidup yang teramat kompleks bagai simpul tali panjang yang terurai tak rapi. Tugas bersama untuk menyusunnya menjadi rangkaian indah penuh makna yang saya sadari tidak akan semudah kata-kata. Perjuangan dan pengorbanan diperlukan, dengan peluh dan air mata.
Suatu yang saya sendiri tidak pernah sangka bahwa semua ini berawal dari hal-hal sederhana serta campur tangan-Nya. Selalu teringat janji-Nya, bahwa semua akan indah pada waktunya. Keindahan cerita cinta, cerita kehidupan dan kenikmatan tanpa henti yang terus ingin saya nikmati. Selamat ulang tahun sayang.
Ini cerita versi istri saya, judulnya ‘4 Tahun Bersamamu’…
Disaat kita mulai berserah, disaat itulah kasih dan roh Tuhan mulai bekerja. Usaha yang terlalu keras malah membuat kita lupa akan campur tangan Tuhan karena tidak ada celah bagi RohNya untuk bekerja bagi kita. Disaat aku mulai menyandarkan harapan2ku padaNya, disaat itulah Ia membawaku bertemu seseorang yang ternyata telah Ia siapkan untuk menjadi Ayah dari anak2ku, Tyas.
4 tahun sudah ku lalui berbagi cerita hidup bersama Tyas. Tahun pertama yang penuh gejolak; gejolak bahagia, gejolak emosi yang menuntut penerimaan dan pengertian akan kekurangan masing2, menguji kesetiaan terhadap cinta dan janji perkawinan. Tahun kedua yang penuh berkah dan kebahagiaan, karena hadirnya mukzizat Tuhan dalam keluarga kecil ini, Christian Keanu Caherswara a.k.a Tian. Tahun ketiga yang penuh warna; Tyas dengan businessnya, Aku dengan pekerjaanku dan pengalaman awal menjadi orang tua untuk Tian, mulai kompromi tuk menentukan mana dan apa yang terbaik bagi pangeran kecil kami.
Tahun keempat, tahun yang baru akan kita lewati. Tahun yang untukku harus bisa dimulai dengan lebih baik. Jadi istri yang lebih peka akan kebutuhan suami, keinginan suami dan berharap sebaliknya. Komunikasi yg lebih baik, bisa saling mengutarakan keinginan masing2, tidak hanya diam yang sewaktu2 bisa jadi bom bumerang. Jadi ibu yang lebih perhatian, sabar, membimbing lebih. Kadang masalah2 kecil justru penting sebagai landasan kuat tidaknya menghadapi masalah yang lebih besar. Berharap perkawinan ini terus bertahan sampai maut yang memisahkan. Mencoba sekuat tenaga untuk tidak membiarkan hal2 yang katanya lazim dialami rumahtangga pada umumnya, terjadi dalam rumah tanggaku. Banyak yang bilang, kalau sudah jadi istri, jatuh bukannya ditolong tapi malah dimaki2,beda waktu masih belum memiliki, pasti setengah mati dihibur dan disayang. Yaa semacam itulah. Semoga dia juga berusaha tidak seperti itu.
4 tahun lalu, tiada detik tanpa senyum menanti sms darinya. Tiada menit tanpa kabar darinya. Tiada hari tanpa kedatangannya. Miss him like the old time…miss us like the old time…hope to miss him always, like I used to… Selamat hari perkawinan kita yang ke-4 suamiku.. I love u









Leave your response!