Home » Family Life, Featured, Headline

Selamat Jalan Pahlawan II

20 January 2010 One Comment

Lanjutan dari Selamat Jalan Pahlawan I

14 Desember 2009
Pukul setengah lima saya tiba juga di bandara Soekarno Hatta. Menantikan keberangkatan pesawat Lion pukul 7 ke Jogjakarta. Pesanan tiket semalam yang dibatalkan membuat masalah tambah sedikit runyam. Mata letih karena  kekurangan tidur mau tak mau harus terbelalak. Saya harus adu argumen pagi ini untuk pemesanan 6 kursi pada tadi malam yang dibatalkan. Tapi mau bilang apa, jika sistem canggih komputer lawan bicara saya sudah berbicara. Pemesanan ulang dilakukan, dan untungnya posisi keenam kursi stok terakhir yang akan membawa saya dan sanak saudara menuju pemakaman kakung masih kosong. Saya booking dan menunggu datangnya vanti adik saya dan Mas Deni suaminya, dan sepupu saya Mas Diki dan Istrinya Mbak Inel dan Deny (lagi).

Mata saya sayu, walau kantuk tidak lagi terasa. Pikiran saya melayang jauh dari kursi bandara ini, sendiri. Menembus batas geografis pulau jawa, melintasi dua propinsi dan dimensi waktu, satu hari yang lalu. Saat itu saya dalam perjalanan dari Jogjakarta menuju Jakarta. Saat bercanda riang dengan anak saya berumur dua tahun dalam kereta Argo Lawu, saat sepatu karet menghentak lantai kereta tanpa henti karena tian yang berlalu lalang sepanjang koridor kereta. Hari itu ceria bertambah dari ibu yang menawarkan lotek di stasiun Purwokerto juga oleh-oleh wingko babad bermerek kereta api yang terbungkus rapi walau kami tahu setelah tiba isinya jelek semua.

Hal yang bertolak belakang terjadi di Rumah Sakit Detasemen Kesehatan Tentara, Jogjakarta. Suara Alquran tak henti menemani tidur kakung kami. Entah, beliau mendengar dendang lagu dari mulut anak-anaknya atau tidak, ataukah suara itu sudah tidak terdengar lagi, dihiraukan bagai peluru dikaki. Kakung tertidur sejak kemarin malam. Komunikasi terakhir kakung adalah dengan saya, saat beliau masih memandang walau dalam kabur genangan air mata, saat beliau masih bisa berkata walau berat tahi lalatnya mempengaruhinya pembicaraannya, saat beliau menolak saya untuk beranjak meninggalkannya.

Dendang Allahu Akbar tidak berhenti hari itu. Sikap berpasrah atas kondisi yang semakin memburuk dilakukan anak-anak tentara yang pensiun dini pada 1965 itu. Usia 45 tahun memutuskan dengan jiwa besar untuk menjadi seniman karena tuntutan jaman. Seniman pada masa itu memang hidup bergelimang harta, penghargaan negara atas seniman begitu tinggi dari negara dipimpin oleh Ir. Sukarno yang begitu mencintai seni. Namun untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Pada 1966, pemerintahan berganti. Pendiri bangsa tidak lagi memegang kendali. kehidupan seniman turus drastis, juga kakung kami.

Secara tidak langsung, Kakung menjadi korban politik tahun 1966. kehidupan pada masa itu menjadi merosot drastis. Kekayaan masa lalu berangsur hilang. Fiat 1948, Fiat konde dan motor gede sparta peninggalan kejayaan masa lalu tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Pensiunan pada masa itu tidak mungkin mencukupi kehidupan. Beragam profesi pun dilakoni untuk keluarga. Supir bemo di Cimahi, atau jual bensin eceran bahkan menjual arang dilakukan tanpa malu. Profesi terakhir yang cukup sukses dengan dikenal masyarakat adalah tukang cat sepeda. Profesi yang masih jauh dari ideal, walau kenyataannya tetap bisa menghidupi keluarga dengan kondisi cukup. Jiwa seninya tetap terasah dalam lukisan dan patung-patung karyanya.

Bisikan Allah Maha Besar, tersamar oleh nafas pendek yang berirama. Hingga pukul 5.10 nafas itu semakin tak berirama, suara memelan dan irama semakin memanjang. Lambat laun semua menghilang, Kakung sudah tiada. Hembusan nafas itu tidak lagi ada, diantarkan oleh ke-4 anak-anaknya disisinya. Tanpa istri kakung atau eyang putri kami dan satu anak kakung yang saat itu sedang istirahat di rumah. Dan itulah jalan terbaik-Nya. Tak lama, tangis tak tertahankan. Semua melepaskan kepergian dengan air mata terjernih yang pernah ada, kesegaran air mata melebihi mata air gunung tertinggi negeri ini. Campur aduk cerita masa lalu yang menyedihkan dan takkan pernah lagi kembali. Tangis berpasrah untuk melepaskan kepergian lelaki yang dulunya gagah, diiringi doa untuk segera berserah dengan sang Kahliknya.

Saya kembali tersadar kala air mata saya berkaca di bandara ini. Pikiran yang melayang telah kembali. Masih disini menunggu sanak saudara untuk terbang bersama, menemui jasad terakhirnya, menyampaikan pesan terakhir untuk beliau dan mengiringi pemakaman dengan doa terbaik yang bisa saya berikan. Pukul enam tanpa terasa, semua tiba di lokasi. Mata mereka lebih sembab dari saya, maklum mereka baru tiba dari jogja. Rombongan pertama tiba pukul satu, rombongan dua tiba pukul tiga dini hari. Saya jauh lebih beruntung, walau harus menjadi garda depan bangun pukul 3 dan bertugas mencari tiket di bandara sejak setengah lima.

Pukul 7 lewat, berputarlah roda pesawat Lion ini memulai perjalanan. Tepat dari waktu yang dijadwalkan. Canda tawa kami hanya sesekali, untuk sekedar mengalihkan duka kami. Cuaca diluar cerah, hiburan ringan untuk melihat hamparan daratan terpapar dibawah kami. Beberapa gunung terlihat sempurna, walau sesekali tertutup awam putih yang bergerak halus. tanpa terasa satu jam perjalanan sudah dilalui, Jogja sebentar lagi dan haru siap menghampiri.

Malam hari jenasah kakung sudah diantarkan ke rumah di bilangan Maguwoharjo Desa Ringinsari. Setibanya kami disana, tenda sudah berdiri. Para tamu yang terdiri dari tetangga dan sanak saudara telah hadir sejak pagi. Kami langsung menuju dalam untuk mendoakan dalam hati kakung yang sudah terbungkus kain rapi. Tertidur abadi dalam peti. Jenasah kakung diletakan di ruang televisi, tidak jauh dari kamar dan ruang duduk tempat kakung biasa menghisap dji sam soe siang hingga malam hari. Tempat kumpul bersama dalam tawa, saling ejek dalam canda sudah biasa. Hal yang sama dengan kakung dan tuti (eyang putri), selalu berselisih paham dalam banyak hal, selalu bertengkar bukan canda namun tetap tidak pernah bisa terpisahkan. Dekat bertengkar, namun jauh saling merindu. Hal yang sudah biasa didengar, dan menjadi hal selalu dinantikan keluarga besar kami.

Suasana hari ini memang berbeda. Kali pertama rumah ini berduka, melepas pahlawan dengan banyak tanda jasa. Pahlawan yang biasa duduk disudut kursi biru ruang tengah menghembuskan tar dan nikotin ke tudung lampu diatas meja kaca dan langit-langit, sudah berpindah tempat. Rokok dan korek api gas serta gelas besar berisi teh yang biasa tergeletak dimeja pun tidak tampak. Kali ini digantikan deretan cangkir bertatakan rapi milik saudara dan tamu yang hadir. Satu yang sama. Eyang putri kami duduk di kursi seberang tempat duduk kakung seperti yang biasa dilakukannya. Namun kali ini raut wajah ceria itu sirna. Pelupuk matanya sesekali basah oleh tetesan air mata. Pikirannya melayang, entah ke dimensi waktu mana. Namun pastinya sedang bersama dalam bayang-bayang suami tercinta, kakung kami.

Jenasah kakung akan dimakamkan hari ini di Taman makam Pahlawan Kusumanegara, di tengah kota Jogjakarta. Lokasi bersemayam yang sama dengan tokoh Nasional Jendral Besar Republik ini Jendral Soedirman dan Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Alangkah hebat bukan tempat peristirahatan kakung, nanti bisa dilihat digambar betapa indahnya. Persiapan pemberangkatan dilaksanakan pukul 11 siang dengan upacara militer bercampur tradisi jawa.

Upacara tradisional dalam adat istiadat kematian jawa adalah Brobosan. Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua. Acara ini dengan peti mati yang dijunjung tinggi di depan halaman rumah dan anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama (seharusnya)  tiga kali dan searah jarum jam.

Setelah upacara selesai, berangkatlah kami menuju ‘rumah masa depan’ kakung kami. jenasah menggunakan ambulan militer, dan kami sekeluarga besar dalam bis. Ambulan berjalan didepan, tidak pelan namun nyaman untuk menikmati setiap putaran roda menuju menit terakhir peristirahatan pejuang negara dengan penghargaan terakhirnya adalah Lencana Cikal Bakal Tentara nasional Indonesia pada 23 Pebruari 1999 dan ditandatangani oleh Presiden Indonesia ketiga, Bahcharuddin Jusuf Habibie.  kakung kepala keluarga sekaligus Kepala Bagian Alat-alat Penolong STMI (sekolah Teknik Militer Invantri) berpangkat Pembantu Letnan dengan Surat Tanda kehormatan yang ditandatangani oleh Mentri Pertahanan, Mr. Ali Sastroamidjojo pada 5 oktober 1954.

Dua puluh menit diperjalanan dan tibalah kami semua, Peti mati diturunkan dari ambulan dan upacara militer dilakukan Prajurit TNI dengan gagahnya. Tembakan salvo 1 kali sebelum memasuki gerbang depan menghentak keheningan dan kesunyian siang yang terik itu. Penghormatan sang pejuang bangsa mempertahankan kemerdekaan RI semasa pergolakan melawan milter Belanda yang berupaya menjajah Indonesia kembali sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Prosesi berlanjut hingga tembakan salvo terakhir saat jenasah sebelum dimasukan liang kubur. kembali gagah suara tembakan memecah kesunyian, meneriakan duka sekaligus menyampaikan bangga di dada. Pemakaman berjalan sempurna tanpa kurang apapun. Hingga peristirahatan terakhir raga yang telah tertutup dalam gumpalan tanah bercampur pasir beserta seluruh doa-doa kami. Agar kakung kebanggaan kami yang kaya syariat horisontal dalam nilai-nilai hidup universal ini kembali dalam pangkuan-Nya. Selamat jalan pahlawan…

One Comment »

  • Selamat Jalan Pahlawan (I) | maribaca.net said:

    [...] Lelaki tampan pencetus Museum Taruna Magelang karena darah seni yang selalu teralirkan dari jantungnya yang kokoh laksana dinding tembok china. Lelaki dengan piagam  Satyalantjana aksi militer I dan II berpangkat Letnan Dua, berdjabatan Kepala Alat Penolong yang diterima tanggal 17 Agustus 1958 yang mengabdi dengan penuh dedikasi tinggi. Ketulusan mengajinya diakhir usia takkan sia-sia, sebagai syarat syariat untuk kembali kepada-Nya. Selamat Jalan Pahlawan… (bersambung ke Selamat Jalan Pahlawan II) [...]

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.