Home » Featured, Headline, Intermezzo

Kearifan Budaya Lokal dalam Desain Baru Maribaca.net

18 January 2010 No Comment

Berhubung sabtu minggu kemarin saya pengangguran alias tidak punya kerjaan, alhasil maribaca.net menjadi kanvas saya selama dua hari untuk iseng-iseng bermain dengan CSS (Cascading Style Sheet). Template wordpres gratis bernama Arthemia pun saya olah agar menghasilkan desain yang lebih punya sentuhan personal.  Buah karya desainer web Michael Hutagalung asal Sumatra Utara yang tinggal di Bandung (CMIIW) itupun saya olah. Sudah lama sebenarnya saya menggunakan template ini, hanya saja berhubung belum ada niatan untuk utak-atik tampilan maka saya biarkan apa adanya. Bahkan cenderung kurang sebenarnya =D

Beberapa jam pikir-pikir cari konsep desain, eh tiba-tiba saja kesambet untuk membuat desain blog ini dengan motif yang lebih ‘indonesia’. Ceritanya sih biar saya selalu ingat tentang kearifan budaya lokal ditengah derasnya kemajuan jaman. Pola batik adalah pilihan saya. Batik yang telah mendapatkan pengakuan dari Educational, Scientific and Cultural Organisation - Unesco sejak 2 oktober 2009 saya rasa akan menjadi suatu hal yang menarik jika saya aplikasikan dalam blog ini. Browsing beberapa saat untuk mencari pola yang tepat, dan dapatlah pola kancing ini. Batik sebagai teknik perintang warna dengan menggunakan lilin (malam) inilah yang kemudian tampil sebagai latarbelakang walau disini tidak diwarnai dengan lilin melainkan adobe photoshop CS2. Dalam hal ini esensi batiknya itu toh yang lebih penting =)

Batik, sebagaimana namanya mbatik adalah ngemban titik. Secara filosofis berarti : padat karya. Karena membatik membutuhkan banyak tenaga kerja. Dari mulai mendesain, menggambar motif, membuka-tutup kain dengan malam, mewarnai, hingga memasarkan batik itu sendiri. Mbatik juga bisa berarti mbabate teko sitik. Membatik membutuhkan kesabaran luar biasa, mengingat membatik bersumber dari kata hati. Huebat bukan filosofis kearifan budaya kita. Suatu hal yang harus dipertahankan bahkan justru dikembangkan untuk memperkaya khasanah dari mbatik itu sendiri. Hal yang berlaku juga dengan banyak budaya lain di negeri kita yang kaya ini.

Kembali lagi perihal desain. Untuk meningkatkan konsep kearifan lokal yang lebih dalam, maribaca.net menampilkan beberapa bagian dalam tulisan huruf jawa atau biasa dikenal hanacaraka. Jenis huruf Jawa yang saya cukup kaget ternyata sudah ada dalam format digital. Siapapun pembuatnya saya sangat bangga karenanya. Saya coba tampilkan walau saya sendri baru kali pertama menggunakan jenis huruf ini. Buat yang mau download font Hanacaraka silahkan sedot disini dengan gratis. Gunakan untuk banyak aplikasi, dan beritahukan pada dunia.

Akhir kata begitulah desain baru blog ini, hasil pengangguran dua hari. Silahkan dinikmati dengan segala kekurangannya. Salam

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.